Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2015

Hukum Mati Bandar Narkoba !

Masih heboh sekarang ini mengenai terpidana mati kasus narkoba yang dieksekusi tembak mati di pulau Nusakambangan. Yang paling terkenal adalah terpidana mati Duo Bali Nine, Andrew Chan & Myuran Sukumaran WNA asal Australia. Mengenai tindakan hukuman mati kepada pengedar narkoba, banyak sekali yang merasa sangat bersyukur, pada akhirnya terpidana mati narkoba yang meresahkan ini dieksekusi setelah melalui proses lobi-lobi dari berbagai pihak. Namun tak sedikit juga yang mengecam tindakan Indonesia karena dianggap melanggar HAM.

Lantas, apakah mereka pantas mendapatkan hukuman Mati ?

Mari kita lihat dari berbagai sudut pandang. Mereka yang menganggap bahwa hukuman mati tak seharusnya dilakukan, adalah orang-orang yang membela dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka beranggapan bahwa hanya Tuhan yang pantas memberikan hukuman mati kepada manusia. Sedangkan hukuman mati yang dilaksanakan oleh manusia kepada manusia dianggap tidak layak, atau sama saja dengan melakukan pembunuhan. Kata pembela HAM, narapidana terpidana mati adalah manusia juga, dan sudah sewajarnya mereka diperlakukan lebih manusiawi dengan mendapatkan Hak atas hidup mereka dan mendapatkan kesempatan kedua. Lagipula terdakwa sudah mendapat rehabilitasi dan memberikan banyak kontribusi positif selama masa rehabilitasinya di Lapas.

Di sisi lain, mereka yang Pro kepada hukuman mati beralasan bahwa terdakwa layak mendapatkan hukuman mati karena telah merenggut Hak Asasi Manusia lainnya yang telah mencandu barang haram yang dibawa dari negara asalnya. Mereka yang mendukung eksekusi mati melihat bahwa para tahanan kasus narkoba belum mendapatkan efek jera atas apa yang mereka lakukan. Sehingga ketika presiden mengumumkan bahwa Indonesia Darurat Narkoba dan menindak tegas terpidana mati kasus narkoba, mereka yang mendukung eksekusi mati merasa bahwa inilah bentuk keadilan. Para pendukung hukuman mati menganggap bahwa hukuman ini pantas untuk para terpidana. Karena mereka telah merenggut hak asasi manusia yang lain.

Itu tadi opini orang, lantas apa opini saya ? Jujur, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya menyatakan setuju jika bandar dan pengedar narkoba dihukum seberat-beratnya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika hukuman seberat-beratnya dari suatu negara adalah hukuman mati, maka saya perjelas lagi bahwa saya SETUJU !

Mengapa saya begitu ngotot setuju kepada pelaksanaan hukuman mati ? Karena seperti yang saya ungkapkan tadi, mereka telah merenggut hak orang lain untuk hidup lebih baik dengan memberi narkoba pada mereka. Dengan berbagai cara, berbagai modus, mereka perlahan tapi pasti menghancurkan banyak sekali generasi muda. Banyak nyawa yang melayang gara-gara mereka dengan sengaja memperjualbelikan barang haram tersebut. Dan yang lebih miris lagi, saya merasa sangat marah kepada mereka yang secara terang-terangan di depan media malah merasa bangga karena masih bisa mengedarkan narkoba bahkan di dalam Lapas. Saya harap ia  dapat mempertanggungjawabkan semua perbuatannya lebih berat lagi di Neraka atas apa yang telah ia lakukan.

Menurut saya vonis terpidana mati justru bisa lebih mendekatkan kita kepada Tuhan dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik sebelum kita meninggal. Jika kita melihat terpidana hukuman mati setelah vonis, kebanyakan dari mereka justru menjadi pribadi yang lebih baik setelah mendapat hukuman mati. Mereka menjadi lebih dibutuhkan oleh masyarakat dengan berbagi ilmu yang mereka miliki. Mereka jadi menyadari kesalahan yang mereka buat dan mereka otomatis menjadi peringatan bagi siapa saja untuk tidak mengikuti jejak mereka.

Hukuman mati memang tidak akan pernah menghentikan peredaran narkoba di Indonesia. Selama ada kebutuhan akan barang haram tersebut, peredaran narkoba tak akan berhenti. Tidak akan pernah berhenti selama tidak ada satu hukuman yang akan membuat seluruh lapisan pelaku pengedaran narkoba menjadi jera dan takut. Hukuman mati, menurut saya adalah solusi jangka panjang untuk mengurangi peredaran narkoba di Indonesia.

Hukuman mati juga masih harus dikaji lagi. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan, seperti cara hukuman mati yang tepat dan manusiawi, ketentuan seseorang layak dijatuhi hukuman mati, dan masih banyak lagi. Tapi, selama belum ada hukuman lain selain hukuman mati yang mampu membuat efek jera dan efek kapok para bandar dan pengedar narkoba, maka hukuman mati adalah solusi terbaik bagi bangsa yang tengah dilanda Darurat Narkoba.

Sekian

Minggu, 26 April 2015

Pesta Bikini Habis UN, WHAT ?

Suatu hari yang tenang seperti biasa aku lagi asik-asik nonton tv di kantor. Tiba-tiba mak-je-ga-gik aku langsung terperanjat kaget lihat berita di TV, sumpah ! kaget banget lah yakin Bos ! Isi berita di TV itu soal Pesta Bikini ! Iya bro, pesta bikini yang diadakan oleh salah satu EO di Jakarta itu mengundang seluruh pelajar SMA yg telah menyelesaikan UN, judulnya "Splash After Class"

Penampakan Partynya

Saya nyoba kepo-kepo dan ternyata memang benar pada video iklan yang sudah diupload di youtube tertera dengan jelas terang benderang bahwa dresscode pesta ini adalah bikini atau summer dress ! Sudah bisa dibayangkan sendiri betapa "indah" pemandangan yang akan tercipta di sana ? Saya yang belum pernah melihat ABG cantik pakai bikini secara langsung di depan mata ini tentu saja sangat kaget dibuatnya. 

Toooh, jelas banget kan yang dateng disuruh pake bikini ?

Gimana nggak parah coba generasi Indonesia sekarang ini ! Belakangan ini kita sering banget kan, lihat di TV atau portal berita online. Setelah UN berlangsung, sangat banyak sekali siswa-siswi dua sejoli SMA bukannya berdoa supaya dinyatakan Lulus, atau berdoa supaya bisa masuk kulish di Perguruan Tinggi Negri, eh, malah kimpoi di hotel melati ! Udah gak asing juga kalo di berita sekarang, banyak banget kasus bayi yg dibuang sama ibunya yang masih pake seragam SMA.

Jaman aku SMA dulu tahun 2007-2010, jangankan pesta ajeb-ajeb pake bikini, Prom Night aja banyak orang tua teman yg tidak mengizinkan, bahkan ada males ikut karena harus mbayar. Pergaulan saya jaman SMA dulu, biasanya saya dan teman-teman dekat setiap pulang sekolah pasti ke warnet yang ada game center atau nongkrong di basecamp ekstra kurikuler (ekskul). Kalaupun pulang ke warnet, habis dari warnet pasti tetep ke basecamp ekskul juga :v karena memang sudah terlanjur sangat terlalu aktif banget di organisasi :v. Paling keren saya pernah nongkrong di Mall itu juga gara-gara ada teman yg ulang yahun dan nraktir Pizza Hut.

Meski saya cuma anak game center dan bisa dibilang cupu, bukan berarti saya tidak peka terhadap lingkungan sekolah saya lhooo. Jujur saja, pergaulan teman-teman masa SMA dulu secara umum masih baik dan masih sesuai dengan norma masyarakat yang ada. Misalnya kalau dahulu pdkt itu pasti malu-malu kalau di depan keramaian, soalnya kalo deket-deketan sama lawan jenis, pasti di cie-cie sama temen-temen, jadinya kalo ada yang pdkt pasti nggak ter-ekspose, tau-tau udah pacaran aja. Jaman dahulu kalau pacaran juga gak aneh-aneh, makan berdua di kantin tiap hari, kalo malming juga ngerjain tugas bareng, atau nonton konser musik di SMA tetangga. Gak terlalu ngabisin duit orang-tua pokoknya.

Namun bukan berarti pergaulan masa SMA saya damai dan aman-aman saja. Beberapa kabar miring terdengar sampai ke kuping saya. Mulai dari si A yang katanya sudah tak perawan sejak bangku SMP, atau si B dan si C, dua sejoli yang kabarnya sudah pernah berhubungan badan. Puncaknya ketika saya kelas 3, saya mendengar gosip si D yang hamil oleh si E, yang sudah dipacarinya sejak lama. Ketika berita ini masih sedikit sekali yang tau, si D masih masuk sekolah meski saya juga yakin kalau ada perubahan-perubahan bentuk tubuh yang saya lihat. Ketika beritanya menyebar luas, saat itu sudah selesai Kegiatan Belajar Mengajar, UN dan Ujian Praktik juga sudah selesai dilaksanakan, sehingga si D tidak pernah lagi ke sekolah dan si E yang merupakan adik kelas si D juga memutuskan untuk pindah sekolah. Sudah semakin parah saja bukan ?

Dahulu pergaulan bebas masih dilakukan sembunyi-sembunyi. Teman-teman saya yang bandel tahu diri. Dulu mereka tidak ingin menjerumuskan teman-teman saya yang lebih alim untuk terbawa arus jelek bersama mereka. Mereka menghentikan pembicaraan atau mengalihkannya ketika teman saya yg alim dan polos kebetulan kepo-kepo nimbrung ngobrol.

Sungguh, saya yang melihat perubahan ini merasa sangat malu sekali. Tapi inilah kita, umat akhir zaman yang saat ini mengalir bersama arus kehidupan yang semakin deras. Kita harus bijak memilih apakah akan dengan suka rela terbawa arus ? Atau memilih melawan arus ? Ataukah kita akan menolong mereka yang tenggelam lalu bersama berenang ke tepi ? Atau pergi ke tepi sendiri untuk kemudian menolong yang terjangkau ?

Kita yang memutuskan !

NB : mohon maaf jika ada yg tersinggung atas postingan ini, maksut saya hanya ingin berbagi pengalaman saja.