Selasa, 12 Mei 2015

Syukuri Hidupmu dan Jangan Menyerah

Masih ingat Bunga ? Cewek yg curhatnya aku pos di blog kemaren bikin kisah buat aku lagi nih. Kali ini kisah yg dia buat tentang pengalaman hidup dia sendiri. Kali ini dia gak galau tentang si Bambang lagi kok gaes, tenang aja. Dia pengen sharing pengalaman hidupnya yang boleh dibilang penuh perjuangan. Kisah anak muda yang patut kita tiru dan kita tanamkan dalam diri kita. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini. Seperti biasa akan saya bagikan review pribadi saya mengenai postingan kali ini.

Untuk kalian yang akan membaca, harap cari posisi wenak (PW) karena jumlah halaman waktu si Bunga menyerahkan naskah ke saya ada 10 halaman dengan spasi 1,5 :v

Enjoy her story

***

Setiap orang punya kehidupan masing – masing yang kadang gak pernah diketahui alurnya. Pernah gak sih kalian hidup jadi orang yang berbeda dibandingkan remaja pada umumnya? Sekilas langsung aja deh perkenalannya. Namaku Bunga, aku anak pertama dari 4 bersaudara. Aku lahir dari keluarga dengan latar belakang yang bisa dibilang kurang dan penuh perjuangan. Aku memiliki karakter yang emosional, periang, supel, korban buli, tempat curhat, dll. Aku lahir di Kota X dengan kondisi memprihatinkan. Dimana pada umumnya kelahiran seorang anak masih didampingi oleh neneknya, disiapkan segala sesuatu yang megah, dan sebagainya. Tapi tidak buatku, aku lahir ditengah kondisi dimana kedua orang tuaku bekerja sebagai ibu rumah tangga dan ayahku yang hanya sebagai seorang kuli bangunan dengan gaji pas – pasan dan memiliki tanggungan 3 orang adik ipar. Tidak hanya itu, kondisi ibuku yang sakit-sakitan menjadikan ayahku menahan tangis dan rela bekerja sesulit apapun.

Terkadang usaha seorang memang tak cepat membuahkan hasil sebelum mencapai waktunya. Alhasil bersama kesulitan ada kemudahan. Ayah ku dipertemukan dengan seorang pengusaha berhati mulia yang super duper baik namun sensitif. Beliau bernama pak Trisno. Beliau begitu prihatin dengan keadaan orang tuaku. Hingga pada akhirnya beliau menantang ayahku untuk menjalankan usahanya dengan sistem setoran sesuai target. Usaha apakah itu? Iya, usaha berjualan jamu ditempat yang sepi dan belum begitu banyak penghuninya. Perjuangan memang tak berhenti begitu saja, ayahku meniti semuanya dari awal. Bayangkan balita seusiaku harus tidur berlaskan kardus. Jika aku merasakan sakitnya, mungkin bisa jadi aku malu atau entahlah. Tapi perjuangan memang sebanding dengan hasil. Waktu terus berlalu. Usaha yang belum begitu dikenal, hingga akhirnya berkembang sedikit demi sedikit serta disertai air mata, ibuku pun semakin sehat, setoran kepada pak Trisno bisa terpenuhi, dan kedua orang tua ku bisa menyisihkan uang.

Ketika usaha jamu tersebut semakin pesat dan latar belakang keluarga dari kedua orang tuaku yang tergolong kurang mampu, ayahku memutuskan untuk membuka cabang, dan akhirnya usaha tersebut dipindah alihkan kepada keponakan ayahku yang tergolong usia bekerja. Sebelum nya Pak Trisno memberikan usaha itu kepada ayahku karena melihat kerja keras ayah dan ibuku, serta tawaku yang tak pernah merasakan sakit nya perjuangan orang tuaku dan itu berlangsung kurang lebih 2 tahun.

Waktu terus berjalan. Semakin hari kondisiku semakin terlihat memburuk. Ayahku memutuskan pindah ke Kota Y untuk melakukan perantauan kedua. Dimana uang yang pernaha disisihkan di Kota X sebagai modal awal. Alhamdulillah pindah di Kota Y menjadikan ku bisa tidur beralaskan kasur walaupun kasur kecil. Setidaknya aku merasakan yang namanya pengorbanan. Bayangkan saja, kami tidur ber3 dikasur yang hanya berukuran lebar setengah meter dan panjang 2 meter. Miris bukan? Iya hidupku dari kecil tergolong berbeda dari pada anak kecil pada umumnya, yang bisa merasakan tidur spring bed dan sebagainya. Dibalik tawa tetap ada kesedihan. Dan itu pasti hukumnya bagiku dalam setiap kehidupan. Seiring perubahan hidup kedua orang tuaku, aku mulai sakit –sakitan. Entah apa yang menjadikan ku seperti ini. Aku menderita penyakit yang memprihatinkan. Aku menderita asma yang akut. Hampir seminggu sekali aku merasakan susah bernafas layaknya orang yang hampir sekarat. It’s okay. Aku tak pernah mengeluh. Sebagai anak kecil aku hanya bisa menangis dan tertawa selayaknya anak kecil. Sampai pamanku dan tanteku selalu menjadikan keponakan kesayangan yang tak terkira.

Aku memiliki 2 paman dan 3 tante dari ibuku. Namun yang paling dekat adalah 2pamanku dan tante ku yang terakhir. Mereka begitu menyayangi ku. Namun semuanya berubah ketika om ku yang paling besar menikah. Entah apa yang dilakukan oleh istrinya aku tak mengerti. Dia begitu membenci keluarganya. Termasuk aku keponakan kesayangan dan ibuku yang rela memberikan hasil jerih payah ayahku yang diiringi air mata demi modal usahanya yang sekarang beranak pinak namun kami tak pernah menikmati hasilnya sedikitpun. Itu merupakan tamparan besar untuk ibuku ketika seorang adiknya harus berubah dan usaha kami memperbaiki tak membuahkan hasil. Tidak hanya itu, tanteku tak ingin sekolah lagi dan memutuskan pergi dari rumah. Hmmm.. sebersalah apa coba ibuku kepada nenekku dengan keadaan kakek yang suka menikah dan sebaginya. Penderitaan belum selesai.

Kembali ke hidupku yang mulai jauh dengan salah 1 pamanku, ketika ayahku mulai menambah usahanya, penyakitku semakin prah, bahkan seminggu aku harus merasakan sesak nafas sebanyak 2 kali dengan lama 2 hari. Bagi orang yang sehat, pernahkan kalian membayangkan kalian diposisiku? Aku merasakan hal itu dari usia 2 tahun sampai 14 tahun. Sempat berhenti 2 tahun, dan akhirnya kembali lagi merasakan nya lagi. Alhasil 12 tahun sakit –sakit an guys. Tamparan lagi bukan untuk ibuku? Usiaku semakin bertambah, usaha ayahku juga bertambah. Dan itu terjadi ketika adik pertama ku terlahir. Dia bernama Suci. Dimana rejekki bertambah sakit pun semakin parah. Yang aku ingat saat itu usiaku duduk dikelas 2 sd. Dimana usaha ayahku menjadi bertambah. 3 tempat di Koya Y, dan juga membuka usaha rumah makan di Kota X yang dikelola oleh keponakan ayahku. Aku selalu sakit tepatnya dihari yang lebih identik dengan hari lahirku. Yang menyakitkan adalah dimana aku susah bernafas disertai muntah bercampur darah selama seminggu. Pernah kah merasakan seperti itu? Membuat orang tua kalian menangis bukan karena keinginan kalian? Semoga tidak! Ayahku hanya menangis dan menguatkan ku bahwa akan ada masa dimana aku akan sembuh. Dalam hatiku aku selalu berkata, aku akan sembuh, dan aku tak akan merepotkan kedua orang tuaku. Tahukah kalian? Sesakit itu, aku berusaha untuk tetap mengaji, sekolah, dan lainnya. Sampai jika aku merasa tidak mampu baru aku mau beristirahat.

Roda terus berputar, mungkin kelahiran adik kedua ku yang bernama Suci merupakan posisi atas orang tuaku. Sebelumnya sebanyak itu cabang yang dimiliki kedua orang tuaku kami belum memiliki rumah sendiri. Entah apa alasannya aku tak mengerti sampai saat ini. Yang jelas setiap uang yang kami sisihkan, kami gunakan untuk membantu keluarga kami yang belum beruntung seperti kami. 2 tahun berjalan, adikku bertambah. Sebut saja namanya Ridho. Dia merupakan satu –satunya adik laki laki ku yang harapannya akan lebih gigih dibandingkan kedua orang tuaku saat ini. Seiring dengan itu juga usaha ayahku di Kota X yang dikelola oleh kedua keponakannya bangkrut entah karena apa. Bersamaan denga itu juga aku masih sakit –sakitan dan warung yang  lain mulai tutup satu persatu. Hingga pada akhirnya hanya 1 yang bertahan, yaitu warung yang merupakan sekaligus tempat tinggalku. Waktu terus berlalu. Hingga sampai dimana ayah ibuku terlibat pertengkaran hebat karena keadaan dimana sumbernya keponakan mereka masing – masing. Pertengkaran selesai. Hidup kami stagnan disatu tempat hingga akhirnya kontrakan rumah kami tidak bisa disambung lagi. Kami pun pindah dilokasi yang jaraknya tidak begitu jauh dari lokasi sebelumnya. Dan 2 tahun lamanya kami hidup diposisi stagnan. Dan dalam keadaan itu juga ibuku kembali melahirkan seorang adik perempuan. Sebut saja Nisa namanya. Kelahiran adik terakhirku bisa dibilang kami mengalami masa tersulit lagi. Dimana kedua orang tuaku ditipu oleh karyawannya hingga ketika kami ber3 ingin melanjutkan kebangku smp, sd, dan tk. Tapi apalah daya, masuk smp aja pinjem uang tetangga. Korban keadaan adik cowok ku nih. Sekolahnya dipending. Dan dampaknya dia pemalu berat karena waktu masuk Tknya dipending setahun. Ngenes lagi. Tapi kami tak pernah lupa yang namanya bersyukur. Eitsss, ini cerpen ya, bukan tempat mengeluh, hehe.

Hmmmm,, aku mulai sudah bisa berfikir, bisa mengerti yang namanya sulit. Karena lingkungan ku yang di didikk keras dari kecil, aku tak pernah menghiraukan yang namanya perbedaan. Tapi lama – kelamaan semuanya menjadikan ku iri. Dimana ketika orang lain bisa berkumpul bersama keluarga jauh dan bisa bangga dengan pemberian tante, paman dan kakeknya, sedangkan aku? Keluargaku menyebar dimana saja, lebaran saja tak pernah berkumpul, bahkan berapa jumlah saudaraku dari ayahku saja aku tak tau pasti.

Mengharukan bukan kisah kami? Dimana anak pada usiaku bisa bermain sebebas layangan terbang, aku dibatasi kondisi kesehatan, hingga pada akhirnya aku menemukan kondisi yang menjadikan ku merasa minder diantara teman – temanku. Kesehatan yang baik, keluarga yang harmonis, tanpa didikan keras. it’s okay!! tiap orang tua punya cara masing – masing mendidik anaknya, terutama orang tua yang pernah merasakan pahitnya berjuang.

Tepatnya tahun 2004 kami menikmati rumah baru dimana harga sewanya super duper mahal. Uang saku ku selama setahun mungkin tak cukup menjadi investasi untuk membayarnya. Kehidupan baru dimulai. Dimana seperti biasany, aku selalu sakit ketika pikiran dan lelah hinggap ditubuhku. Seiring bersamaan dengan sakitku yang belum sembuh, adik – adiku juga bertambah besar. Aku memiliki adik yang jaraknya cukup jauh denganku. Jarak usia ku dengannya kurang lebih 6 tahun. Dia bernama Suci. Suci merupakan adik kesayangan ku yang selalu mengurusi ku disaat aku sakit. Bayangkan anakkecil yang duduk dibangku TK rela tidurnya terjaga demi seorang kakaknya yang selalu sakit –sakitan. Dimana ayahku bekerja lebih giat demi mempertahankan 5 anggota keluarga dan jam tidurnya tak pernah beraturan. Kadang aku iri melihat pekerjaan orang tua teman – temanku. Dimana mereka tak perlu berfikir sulit untuk menghilangkan kekhawatiran mereka seperti aku. Lihat saja! Mana ada orang tua yang membiarkan anaknya berjualan diusia yang seharusnya masih bermain bebas dilapangan tanpa beban. Hidupku dipenuhi keterbatasan. Aku tak bisa tidur larut malam lebih dari jam 9. Telat sedikit saja jam tidurku, bakal kacau kesehatanku. Selama bertahun – tahun aku merasakan seperti ini.

Waktu terus berlalu. Pamanku sudah punya kehidupan sendiri, kita tak pernah berjumpa. Lain lagi dengan paman dari ibuku yang terakhir. Ketika dia sudah menikah, penghasilan 50 rb seminggu masih dibagikan kepadaku. Aku memang keponakan kesayangan dia kali. Dia bernama paman Rico. Berbeda dengan paman Jack. Kekayaannya hanya untuk keluarga istri saja. Bahkan terlintas difikiranku kemiskinan menjadikan kita dekat, hingga aku pernah berkata” paman Rico aja yang miskin masih bisa berbagi, kenapa paman Jack yang motor dan mobilnya berlebihan 10 ribu uangnya saja aku tak pernah menikmati. Kondisi keluarga ibuku dan ayahku yang tergolong kurang harmonis menjadikan ku malas jika bertemu saudaraku yang karakternya berbeda sekali dengan karakterku. Hal itu menjadikan ayah dan ibuku selalu berkata jika kami ber4 bertengkar, “aku tak ingin punya anak yang berbeda paham selalu seperti kami, lebih baik kami mati dari pada kami harus memiliki anak –anak yang tak beda dengan kondisi kami”. Mungkin itu yang menjadikanku semakin selalu berfikir emosional. Dimana ibuku selalu berkata, “ ibu dan ayah tak punya siapa – siapa, jika kamu neko – neko seperti remaja lainnya, dan kamu gagal, kepada siapa lagi kami meminta bantuan kalau bukan kepada kamu dan adik – adikmu”. Usia kelas 5 Sd udah sering dapat tamparan nasehat kayak gitu lho guys. Kalian pernah gak tuh dapat omongan gitu? Kalau belum, jangan sampai ya, cukup cerita ini memotivasi dan pengalaman aja.

Waktu semakin berjalan, dimana hidup kami sampai aku kuliah tetap stagnan. Hidup dirumah yang jadi satu sama tempat usaha, buka kurang lebih 22 jam, dengan karyawan yang tak bisa dipercaya, sulit mencari karyawan yang sesuai sama kebutuhan dan bertahan lama serta jam terbang kedua orang tuaku yang berbeda. Dimana ketika ayahku bekerja ibuku istirahat dan ketika ibuku bekerja ayahku yang istirahat. Pernah kebayang gak tuh? Suami istri punya anak 4, gak pernah liburan, yang ada berusaha berjuang menghidupi ke 4 anaknya. Keadaan ku yang seperti ini menjadikan cenderung pendiam dilokasi sekolh atau manapun. Bisa dibilang aku kuper tingkat maksimal. Tak peduli hal cinta, main pun tak pernah. Yang ada dipikiranku membantu orang tua, dan belajar. Ketika aku menginjak usia remaja, dan penderitaan sakitku berakhir, aku menjadi lebih percaya diri. Alhamdulillah aku mulai bisa menyesuaikan. Sampai aku duduk dibangku SMA, dan aku memutuskan untuk mengikuti organisasi di SMA ku yang gak kalah sibuknya sama kerjaan ku dirumah. Aku jadi lebih jarang dirumah. Namun jika ibuku lelah, tetap saja langkahku dibatasi oleh tanggung jawab dirumah. Aku terima kok, toh aku juga jadi bakal lebih terjaga perilakunya jika sering dirumah. Keadaan seperti itu menjadikan ku bisa memanage segala keuangan ku, dan adik – adikku meniru hal itu. Kakak yang baik bukan? Tidak hanya itu, aku sekolah sambil berjualan. Dan itu ditiru oleh adikku Suci. Dan aku bersyukur aku bisa memberikan kesan baik kepada adikku. Walaupun aku tergolong malas diantaara ke3 adikku yang lain.

Sejauh setengah perjalanan hidupku bersama kesulitan orang tuaku, alhamdulillah aku mulai jarang sakit – sakitan. Fisikku mulai berbeda, berat badanku menjadi bertambah, nafsu makan ku mulai bertambah ketika sakitku mulai jarang kambuh. Aku bersyukur untuk hal itu. Namun, penderitaan tidak berhenti disini. Ketika aku sehat, aku diberatkan dengan kondisi dimana kegiatan ku padat, dan gantian Suci yang menderita. Suci terserang penyakit ginjal. Dimana kondisi ginjalnya kurang berfungsi dengan baik. Istilah kasarnya bocor ginjal lah kalau pada gak tahu. Yaelah, hidupku kok melankholis banget yak?? Dimana remaja diusia ku berfoya – foya, pacaran dll, aku mengurusi beban kedua orang tuaku yang tak terkira guys! Untuk yang pertama kalinya adiku dirawat dirumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Suci dirawat dirumah sakit selama 1 minggu. Pada waktu itu aku duduk dikelas 1 SMA dan dia duduk di kelas 4 SD. Kedua adikku yang paling kecil dia hanya pengikut suasana. Dimana dia hanya mengikuti alur karena belum mengerti yang namanya kerja keras. Apalagi mereka tidak merasakan yang namanya tidur dikardus. Jangan ah. Kasihan ini jaman modern. Udah gak jaman anak kecil tidur dikardus. Haaha, bercanda kok. Cukup kakaknya aja yang ngerasain perjuangan bapak ibuknya. Yang penting mereka harus ngerti tapi jangan sampai merasakan. Ya gak?? Iyain aja deh

Roda terus berputar. Yang namanya grafik juga pasti naik turun. Anggap aja kalian baca ini cerpen lagi memahami kurva yang ada dipelajaran matematika. Satu tahun lamanya adikku menderita penyakit tersebut. Beda denganku, kalau sakit bawaannya kadang marah –marah. Kalau Suci nih ya, dia selalu diam, tersenyum, dan seolah tidak merasakan sakit. Apalagi kalau lagi senyum, ih lesung pipitnya tu loh, bikin ayem sama ngilangin kekhawatiran kita. Selama setahun juga kedua orang tuaku bolak balik rumah sakit, mengobati adikku. Adikku menjalani hari –harinya dengan senyuman. Suci tuh ya, orang yang paling beda dari kami ber3. Dia pendiam, gak banyak omong kayak aku, tapi kalau kita lagi nggosip sih, ya sama aja sih sebenarnya sama aku. Dia juga berjilbab diusia sebelum balig loh, ngajak temen2nya loh. Keren gak tuh?! Dia lebih suka bekerja langsung daripada bicara, rajin lah. Pokoknya beda jauh sama sifatku yang 50% malas. Tanpa disadari Suci selalu membuat diary yang inti dari isinya adalah dia bangga memiliki kakak dan orang tua yang sangat menyayanginya sejauh ini. Ya sama kayak aku, dia selalu merasa bersalah jika merepotkan orang tua kami. Dia juga menuliska bahwa kadang orang itu tidak bisa merasa puas. Intinya dia menuliskan jangan mengeluh, bersyukur, dan ikhlas lah dalam mengahdapi hidup. Sesakit apapun kondisinya, tugas sekolah nya gak pernah terbengkalai loh. Bahkan disuruh cuti sekolah aja dia gak mau. Hingga tepat dibulan maret 2012, tepat ketika kami dikelas 2 SMA dan 5SD, kondisi kami sama sama lagi kacau. Kami berdua lagi batuk kering. Dimana kondisi ginjal adikku sudah mulai membaik. Namun jalan Allah memang gak pernah terduga. Ketika kondisi ku membaik, justru Suci malah memburuk. Hb nya hanya berjumlah 8. Sedangkan hb normal aja 12. Akhirnya dokter menyarankan untuk memasukkan adikku kerumah sakit. Dan dia harus dtransfusi darah sebanyak 6 kantong. Jujur saja aku miris dengan keadaan, aku yang masih belum sembuh bisa apa? Bisa diem doang dan merasa gak berguna. Mau transfusi umur aja belum cukup. Akhirnya kita beli darah di PMI. Namanya transfusi . kadang cocok kadang enggak. Okay. Perjalanan menyakitkan hampir dimulai lagi nih. Bunga yang gak pernah menangisi keadaan kecuali kalau lagi sakit, nangis lagi. Kenapa gak aku aja yang sakit lagi. Kan udah biasa, dia masih terlalu kecil buat merasakan. Kadang rencana Allah yang lebih baik belum tentu kita bisa terima. 3kantong yang sudah ditransfusi terhenti karena tubuh adikku tidak kuat. Dia kejang berapa menit sekali. Hingga kejang terparahnya berefek panjang. Kejang terparah menjadikan dia tidak bisa melihat sesaat. Kami ber3 menangis. Entah aku salah mendengar atau tidak, ketika kejang terparah, aku mendengar ucapannya, “ yah kayaknya entar lagi Suci udah mau mati”. Gimana gak tambah nangis, digituin sama adik yang selalu ngurusin aku waktu sakit.  Pada hari itu juga, aku mulai merasa ada yang aneh dari adikku, mulai dari perkataannya yang ingin pulang terus, dan berkata kalau dia akan sembuh. Dan ketika aku bertanya apa yang dia rasakan ketika dia sakit, dia selalu berkata, enak. Helloooo, mana ada yang bilang sakit itu enak. Itu menandakan kalau adikku baik. Hingga tiba saatnya kondisinya memburuk ditengah malam. Dan pada waktu itu aku gantian berjualan dan mengurus rumah beserta isinya. Termasuk kedua adikku yang masih mungil – mungil.

Malam itu menunjukkan pukul setengah 3 lebih. Ketika aku hendak makan, setelah tak makan karena khawatir dengan kondisi adikku, telpon ku berdering, ibuku menangis. Tak pernah terlintas bahwa aku harus kehilangan adikku. Dan akhirnya aku menangis lebih parah daripada kedua orang tuaku. Aku kehilangan teman hidup yang paling berharga. Orang yang pernah mengurusi ku ketika aku sakit hingga sesehat ini pergi terlebih dahulu. Tangisku menuju rumah sakit semakin keras. Dalam hati mengapa cobaan bertubi. Harusnya aku lebih kuat daripada orang tuaku. Tapi justru aku yang paling parah menangis. Menangisi kesalahan, menangisi kenapa saat terakhirnya aku tak disampingnya, menangisi mengapa aku tak bisa mengurusinya hingga sembuh, menangisi apa yang kita rencanakn ketika lulus tak akan tercapai. Aku menyalahkan keadaan. Menyalahkan semua perawat. Dan mengamuk hebat dirumah sakit. Ayahku hanya diam, melihat ku sperti itu. Ibuku hanya menangis disudut ruangan. Paman Jack datang, semua datang kecuali paman Rico yang sedang mengalami masalah berat diluar sana. Aku tak mempedulikan orang –orang disekitarku. Aku hanya menangisi jenazahnya. Jujur ini lebih menyakitkan dari pada sesak nafas bertahun – tahun.

Sore itu pemakaman selesai. Banyak tamu yang berdatangan. Kedua adiku mulai sadar bahwa mereka telah kehilangan seorang kakaknya. Dan sore itu juga kami menemukan sebuah karya. Suci selalu mengikutiku. Dia suka menabung, suka membuat cerita seprtiku, dan meniruku berjualan. Karya cerpennya yang menceritakan awal perjuangan nya melawan rasa sakit yang tak pernah ia keluhkan. Dan kami harus memulai lembaran baru dimana kami memulai perjalanan tanpa 1 aggota. Ikhlas itu sulit guys! Sejak itu kami menjadi lebih pendiam. Aku cenderung lebih malas, ayah dan ibuku hanya menangis, kedua adikku menjadi melamun. Harusnya aku lebih kuat karena aku anak pertama yang bakal menopang beban lebih hebat daripada beban ini. Tapi faktanya aku tak sekuat biasanya. Aku justru selalu cekcok dengan ibuku karena perubahan ku yang belum bisa menerima keadaan.

Kami mulai membiasakan diri tanpa Suci. Namun pahit nya hidup kami, belum berhenti. Selang setahun kami ditampar kabar buruk lagi, kakak dari ibuku terpeleset dan karena kondisi mental nya yang tergolong kurang karena korban kekerasan kakekku dimasa mudanya, dia hanya diam, keterbatasan pengetahuan menjadikannya menganggap hal sepele. Hingga pada akhirnya beliau dirwat dirumah sakit. Dan meninggal dunia, karena pembekuan darah diotak. Dan dua anggota keluarga kami mendahului kami. Om Rico tak menghadiri lagi pemakaman tersebut.  Karena kondisi rehabilitasi yang harus ia jalani selama beberapa tahun. Betapa kurusnya ibuku saat ini. Selang setahun kemudian kakekku meninggal karena sakit keras. Dan menimbulkan pertikaian antara ibuku dan om Jack. Aku dan ayahku hanya bisa menghibur ibuku tanpa bisa ikut campur. Sungguh parah om, kelakuanmu, disaat kehilangan masih saja sempat –sempatnya perhitungan, apalah arti uang dibandingkan saudaramu om? Lebih memilih keluarga istri dan harta dibanding keluarga sendiri yang merelakan jerih payahnya untukmu hingga berhasil. Entahlah, aku semakin merasa gila merasakan hal ini. Selang setahun kemudian aku kehilangan tanteku karena pendarahan hebat saat melahirkan anak keduanya. Bayangkan ibuku kehilangan 4 saudara kandung, ayah, anak, kakak dan adik. Bahkan orang yang spendapat saja tidak bisa ada disampingnya dan menyaksikan pemakan ke4 saudaranya.

Hari terus berlalu. Sampai pada akhirnya aku tak pernah main jika dirumah. Ayahku ayah yang kuat. Mendampingi seorang istri yang begitu hebat tamparan hidupnya. Dan aku mempunyai beban berat. Tak punya rumah, harus bisa membanggakan diri untuk orang tua, dan benar –benar sebagai panutan. Sejauh ini kami tak hanya lelah, karena cobaan, kami kemalingan berkali – kali, ban mobil ayah hilang ke4 nya dan sebagainya. Bisa jadi, mungkin kami kurang mensyukuri. Tapi entahlah, justru orang yang mendapat cobaan, katanya orang yang memang disayang sama Allah. Diusiaku yang beranjak dewasa, aku selalu menjadi tempat keluhan ibuku, teman –teman organisasiku, belum lagi kakak – kakak angkatku. Terkadang ketika waktu main tiba, dan aku harus pulang untuk membantu orang tuaku, aku merasa kurang beruntung. Mengapa aku tak seberuntung mereka yang bisa bermain diluar sana sepuasnya tanpa memikirkan darimana uang yang mereka dapatkan untuk bermain? Mengapa aku tak seberuntung mereka? Aku merasa begitu jika aku mencapai titik jenuh. 1 hari pun tak pernah terlewatkan untuk mencari uang oleh orang tuaku. Karena masih ada beban besar yang harus mereka topang hingga aku sudah bukan tanggung jawab mereka. Aku yakin aku kuat. Dimana aku harus memikirkan beban banyak, bahkan kesehatanku sampai tak pernah ku pedulikan. Terlebih lagi ketika aku terlibat masalah hati dan cinta. Benar –benar mengganggu kuliahku.


Aku mencoba belajar dari semuanya. Apapun yang kita hadapi, berjuang itu perlu. Jangan pernah iri dengan keadaan. Bisa jadi harusnya aku bangga bisa merasakan masa tersulit yang belum orang lain rasakan. Hmmm hidup itu gak terduga loh guys. Mungkin banyak yang mengiraku boros, tak pernah bersedih, selalu bahagia. Hmmm, ada kalanya orang menutupi masa tersulitnya dengan kegembiraan yang ia ciptakan untuk orang lain. So La Tahzan guys!

***

Alhamdulillah sudah pada selesai bacanya kan, sungguh cerita yang menguras hati ya. Oke, saatnya saya ikut melengkapi kisah yang dibagikan dek Bunga ini dengan memberi komentar positif.

Sesulit apapun keadaan kita, dengan bersyukur kepada Tuhan kita akan menyadari bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang kurang beruntung di luar sana. Kita beruntung masih ada hal yang kita miliki, sedangkan orang lain tidak. Kita juga bisa belajar dari kisah Bunga bahwa meskipun keadaan kita sedang berada di posisi yang serba sulit, pasti ada jalan keluar jika kita mau berusaha keras dan bersungguh-sungguh dalam berusaha. Ketahuilah bahwa tidak ada usaha yang sia-sia :)

Satu lagi. Keluarga adalah hal yang berharga di dunia. Keluargamu adalah tempat kamu kembali, mereka adalah sebaik-baik tempat untuk pulang, tempat bercerita dan membangun asa. Oleh karena itu, perlakukan keluargamu dengan perlakuan yang sebaik-baiknya, karena keluargamu tidak akan pernah meninggalkanmu. Jaga keluargamu, maka keluargamu ada saat kau membutuhkan.

Sekian :) Thanks for patiently reading ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar